Menteri BUMN, Rini Soemarno Mengancam Sektor Industri Aluminium

Menteri BUMN, Rini Soemarno Mengancam Sektor Industri Aluminium

Menteri BUMN Rini Soemarno mengaku tersentak mengamati data kompetisi industri bauksit serta pengolahan alumunium di pasar ekspor.

Pasalnya, Indonesia sebagai negara yang mempunyai cadangan bauksit nomor tujuh di dunia bahkan sempat menjadi pengekspor bauksit mentah terbesar di dunia dengan negara tujuan utama China.

Sementara China dengan cadangan terbesar bauksit terbesar nomor 2 di dunia bahkan tak mengekspor dalam format mentah, namun mengolahnya menjadi alumunium yang mempunyai skor lebih mahal.

Artikel Lainnya: http://kencanapanelindo.com/harga-pemasangan-acp/

“Nah ini yang mengerikan. Nanti cadangan (bauksit) Indonesia habis, kita tak dapat bikin produk akhir dan kesudahannya orang lain (negara lain) yang merasakan pasar kita,” ujar Rini dalam sambutan di Buka Puasa Bersama Inalum dan si kecil usaha, Sabtu (19/5/2018) lalu.

Bauksit yakni bahan mentah dalam pembuatan pelbagai produk alumunium, seperti alloy, slab, pipa dan lain-lain. Indonesia sempat menjadi nomor satu pengekspor bauksit dunia, sekalian menjadi pengimpor alumunium jadi dalam jumlah yang besar.

Rini mengungkaplan dikala ini 60% produksi alumunium dunia dibuat oleh satu perusahaan China bernama Almunium Corporation of China Ltd (Chinalco). “Ia mengimpor bauksit dari kita, beli bahan mentahnya dari kita,” ujar Rini.

Hal ini disebabkan sebab Indonesia telat untuk memaksimalkan industri hilir hasil tambang, termasuk bauksit. Pasalnya, industri hilir hasil tambang mempunyai keperluan modal yang amat besar.

Keterlambatan Indonesia ini, yang berdasarkan Rini menjadi dasar utama dalam penyusunan holding tambang. “Dengan holding kita memiliki kesanggupan keuangan yang lebih tinggi agar kita dapat ke hilirisasi,” ujarnya.

Via hilirisasi, tuturnya, pendapatan BUMN dan negara akan kian besar sebab poduk bahan jadi seperti alumunium mempunyai harga puluhan kali lipat lebih mahal. “Semisal produk bauksit menjadi alumunium slab yang diaplikasikan untuk membangun kereta ringan atau kereta pesat, itu skor tambahnya 32 kali lipat,” tuturnya.

Pada tahun lalu, pemerintah sudah menyusun holding BUMN tambang dengan PT Indonesia Asahan Almunium (Inalum) sebagai induk. Inalum mempunyai 3 si kecil usaha yang dikonsolidasikan merupakan PT Bukit Asam Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Timah Tbk, serta 1 si kecil usaha dengan kepemilikan minoritas merupakan PT Freeport Indonesia.

Pada akhir 2017, Inalum mempunyai sempurna aset US$ 6,8 miliar dengan sempurna pendapatan US$ 3,5 miliar serta laba bersih sekitar US$ 500 juta.

 

Artikel Lainnya: http://kencanapanelindo.com/harga-aluminium-composite-panel/